MINA — Jemaah haji Indonesia dilarang keras melakukan aktivitas melontar jumrah pada pukul 10.00 pagi hingga pukul 14.00 siang waktu Arab Saudi. Kebijakan tegas ini dikeluarkan oleh Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi bersama Kementerian Haji dan Umrah guna melindungi jemaah dari paparan cuaca panas ekstrem dan potensi kepadatan massa yang berisiko fatal di kawasan Jamarat, Mina. Bahkan, memasuki hari tasyrik, durasi larangan tersebut diperpanjang hingga pukul 18.00 sore demi menjamin keselamatan jiwa jemaah.
Suhu udara di kawasan Mina pada musim haji kali ini dilaporkan sangat menyengat hingga menyentuh angka 42 hingga 43 derajat Celcius pada siang hari. Kondisi tersebut memicu kelelahan hebat yang membuat banyak jemaah terkuras energinya, kehilangan konsentrasi, hingga terpisah dari rombongan dan kesulitan menemukan jalan kembali ke maktab. Risiko gangguan kesehatan seperti heat stroke mengintai karena jemaah Indonesia harus berjalan kaki menempuh jarak hingga 4 kilometer dari tenda pemondokan menuju Jamarat.
Terkait situasi kritis ini, otoritas melarang pergerakan jemaah di luar tenda pada jam-jam terik tersebut. “Bahwa seluruh jemaah haji agar mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan bahwa pada pukul 10. pagi ini hingga pukul 2. Untuk tidak bergerak keluar tenda. Sekali lagi untuk tidak keluar dari tenda karena mengingat suhu udara begitu panas dan tingkat kepadatan jamarat sangat tinggi. Hal ini untuk memberikan keamanan kepada seluruh jemah haji khususnya dari jemah haji Indonesia. Dan kami memerintahkan kepada seluruh jajaran petugas yang ada di lapangan untuk melaksanakan proses ini dengan sebaik-baiknya. Laporkan per kesempatan pertama kepada kami agar kami dapat mengonfirmasinya dengan segera.”
Untuk menyiasati aturan pembatasan ini, jemaah haji Indonesia memilih waktu alternatif yang lebih aman dan longgar pada hari tasyrik tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah. Berdasarkan pantauan di lapangan, kawasan Jamarat berada dalam kondisi paling sepi pada tengah malam mulai pukul 24.00 hingga dini hari. Pilihan lain yang diminati jemaah adalah bergerak setelah salat subuh antara pukul 04.00 hingga pukul 05.00 karena mengejar waktu yang dianggap mustajab. Namun, jemaah diimbau tetap waspada karena menjelang pukul 06.00 pagi, kawasan tersebut mulai dipadati oleh jemaah dari negara lain, seperti dari benua Afrika.
Sebagai langkah antisipasi di lapangan, petugas haji telah menyiagakan tim Mobile Crisis Rescue (MCR) yang beroperasi selama 24 jam penuh dalam tiga sif. Tim gabungan yang terdiri dari unsur perlindungan jemaah (linjam), tim kesehatan, dan tim Media Center Haji ini ditempatkan di 10 titik strategis, terutama di lantai satu dan lantai tiga yang menjadi area utama jemaah Indonesia. Selain menangani jemaah yang kelelahan dan tersesat, tim ini juga aktif membagikan air serta makanan guna menjaga kondisi fisik jemaah agar tetap stabil selama menjalani sisa rangkaian ibadah di Tanah Suci.